Senin, 05 Desember 2016

teks sejarah



Wanita Tangguh Pahlawan Keluarga
          Endang Kiranawati, lahir dari keluarga yang sederhana di Dusun Sawah, Kecamatan Panggang, Kabupaten Wonosari, Gunungkidul. Lahir pada tanggal 29 Juli 1973 dari pasangan Slamet Sarjono dan Kamsiati yang merupakan anak pertama dari 6 bersaudara. Beliau sekarang seorang ibu yang mempunyai 3 orang anak.
          Sewaktu kecil, Endang bersekolah di sekolah dasar Sawah 2 yang merupakan sekolah tempat kedua orang tuanya mengajar sebagai guru di sekolah tersebut. Semua saudaranya juga disekolahkan di sekolah tersebut karena dekat dengan rumah. Endang mendapatkan didikan yang tegas dari kedua  orang tuanya, terutama ibunya yang memerhatikan pendidikan keenam anaknya. Di rumah yang sederhana berbentuk joglo tersebut, setiap malam Endang belajar dengan kelima saudaranya, tak jarang pula anak-anak dari tetangga sekitar datang ke rumah untuk belajar juga karena mereka merupakan murid-murid dari ibu Endang. Endang juga tak jarang membantu kedua orang tuanya untuk merawat kebun di sekitar rumah. Endang selalu membantu kedua orang tuanya karena Endang adalah anak pertama yang diharapkan menjadi contoh untuk kelima adiknya.
          Setamat SD Endang pun melanjutkan sekolah ke jenjang SMP di sekolah SMP 1  Panggang  Gunungkidul. Kemudian setelah tamat SMP, Endang melanjutkan sekolah di SPK Kesdam Magelang. Kedua orang tuanya menginginkan agar Endang menjadi seorang perawat kesehatan. Di sinilah awal mula Endang bertemu dengan seorang pria asli Magelang yang juga bersekolah di tempat yang sama. Pria itu bernama Yuli Supriyanto. Setelah sudah lama akrab, Endang jatuh hati kepada pria tersebut. Hingga lulus SPK Kesdam, mereka berdua tetap setia sampai mereka memutuskan untuk melanjutkan ke pernikahan.
          Pada tahun 1994 mereka menikah dan dikaruniai tiga anak yaitu dua perempuan dan satu laki-laki dengan nama Prihatsiwi Wulan Mahanani, Hangger Aryo Yudhistira, dan Nisrina Hasna Huaidah. Endang merawat ketiga anaknya dan  tinggal di rumah dinas di Kota Magelang. Bersama keluarga kecilnya beliau hidup tentram dan bahagia setelah berjuang keras membangun kehidupan rumah tangga bersama suaminya.

1 komentar:

  1. Ngger3, lain kali harus bisa memilah mana wajib, mana sunah, makruh, bahkan harap. Organisasi yes, tetapi coba tanyakan orang tuamu mengirim ke sini? Sederhana saja: belajar wajib, organisasi OK!

    BalasHapus